27/02/2021

Baby Cakes NYC – Informasi Kesehatan

Tpis dan Trik Hidup Sehat, Seputar Kesehatan.

Beragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi

www.babycakesnyc.comBeragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi. Pandemi COVID-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, bahkan ekonomi Indonesia terancam masuk ke resesi ekonomi. Akan tetapi, bukan berarti hal ini akan mematikan para pebisnis untuk terus mencari jalan agar bisa kebal terhadap dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Pengusaha muda yang juga politisi Gerindra, Sandiaga Uno, meminta masyarakat jangan menyerah. Karena, terdapat sejumlah peluang usaha di tengah segala keterbatasan yang dihadapi saat ini.

“Kuncinya Innovation fast. Pada masa pandemi ini bagaimana cara kita berinovasi dengan cepat dan mampu untuk menjawab tantangan yang kita hadapi,” ungkap Sandiaga.

Dia menegaskan, setiap enterprenuer harus selalu bisa berpikir cepat dan berinovasi. “Inovation fast yang dimaksud ini bisa juga di sebut fathanah, amanah, sidiq, dan tabligh, ini merupakan kesempatan kita juga di tengah pandemik covid-19 untuk memperkuat sisi spritual,” jelas Sandiaga.

Baca Juga: 5 Negara dengan Resesi Terburuk Sepanjang 2020

Berikut merupakan contoh usaha-usaha kecil dengan laba menggiurkan di masa pandemi.

1. Ikan Cupang

Pedagang ikan cupang di Kota Tasikmalaya sangat senang. Bagaimana tidak, di saat usaha-usaha lain banyak yang terpuruk akibat pandemi Covid-19, usaha penjualan ikan cupang justru meroket.

Pelaku usaha ikan cupang mengaku, dengan menjual ikan cupang pada saat ini dapat menghasilkan keuntungan yang sangat luar biasa. Bahkan ujar mereka, sejak enam bulan kebelakang atau saat terjadi pandemi covid-19, permintaan ikan cupang oleh masyarakat selalu banyak.

Pedagang Ini dapat meraup Rp5 Juta Satu Hari Selama masa pandemi hingga saat diterapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), para penjual ikan cupang hias tidak mengalami penurunan omzet, bahkan mengalami peningkatan lumayan signifikan.

Di Kota Tasikmalaya sendiri penjual ikan cupang tersentra di Pasar Karlis Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Ditempat ini, puluhan penjual ikan cupang berbaur dengan penjual ikan hias lainnya menawarkan puluhan jenis ikan hias jenis cupang.

Salah satu penjual ikan cupang di kawasan pasar karlis Kota Tasikmalaya Indra Gunawan (36) mengatakan, pada kondisi biasa, ia hanya bisa menjual ikan cupang paling banyak 50 ekor dalam sehari. Namun, saat memasuki pandemi Covid-19 ia mampu menjual hingga 500 ekor per hari atau mengalami lonjakan penjualan hingga sepuluh kali lipat.

“Sepertinya pandemi covid-19 tidak berpengaruh terhadap usaha yang saya geluti, malah meningkat hampir 10 kali lipat lebih,” ujar Indra Kamis, 19 November 2020.

Ikan cupang yang Indra jual pun terdiri dari beragam jenis, mulai dari ikan cupang jenis Nemo, Giant, Avatar, Vancy dan lain sebagainya. “Namun, yang paling banyak diburu oleh masyarakat adalah jenis Nemo dan Giant,” ungkapnya.

Untuk perekor ikan cupang kata Indra, harganya beragam, mulai dari harga Rp5.000 hingga Rp150.000 per ekor tergantung dari jenis maupun ukuran ikan cupangnya.

Dengan harga yang cukup terjangkau tersebut, banyak pembeli yang datang tidak hanya dari kalangan anak -anak bahkan banyak juga pembeli orang dewasa.

Dari jumlah ikan hias yang yang bisa ia jual kata Indra, omset yang didapat pun dari penjualan ikan cupang lumayan besar.

Memelihara ikan cupang sendiri kata Indra cukup mudah, karena tidak memerlukan lahan yang luas serta modal yang besar. Selain itu, keistimewaan lain pada ikan cupang yaitu bisa dipelihara di toples, tidak memerlukan aerator, dan biasa bertahan lama tanpa banyak oksigen. Tak heran jika akhir-akhir ini cupang menjadi buruan masyarakat, tak hanya penggemarnya, orang awam pun ikut memburu ikan hias satu ini.

“Kondisi ini semakin memperkuat masyarakat untuk membudidaya ikan cupang hias, terlebihlagi  perawatannya tidak terlalu membutuhkan perawatan yang begitu sulit,” imbuh Indra.

Hal senada disampaikan Ny. Ika penjual pakan ikan di pasar yang sama. Saat ini ujar Ika, pakan ikan cupang seperti kutu air (kutir) dan cacing sutra banyak dibeli pemelihara ikan cupang.” Saya sering kali kekurangan barang saking banyaknya pembeli pakan ikan cupang,” ujar Ika.

Sementara itu, salah satu diantar pembeli asal Kecamatan CipEdes, Irvan Wiguna (32) mengungkapkan, selain dipelihara sendiri, ikan cupang yang ia beli untuk dijual lagi. Apalagi ujar dia, saat ini, ikan cupang mulai di minati oleh banyak masyarakat, sehingga menjadi bisnis yang lumayan menjanjikan.

“pada saat  pandemi ini ikan cupang ramai dicari oleh masyarakat, mungkin selain karena banyak jenis dan warnanya, ikan cupang juga bisa sebagai teman bersantai menghilangkan rasa penat setelah melakukan aktifitas,” katanya

2. Tanaman Hias

Selain ikan cupang, tanaman hias juga  menjadi salah satu hobi baru atasi penat di tengah pandemi. Tren memelihara tanaman hias dinilai mengalami peningkatan yang signifikan.

Asosiasi petani tanaman hias di kabupaten Banyuwangi bahkan mengalami peningkatan dalam penjualan hingga 5 kali lipat dari pada sebelum pandemi. karena, harga tanaman hias yang dibudidaya juga memiliki harga yang variatif mulai dari belasan ribu sampai ratusan juta Rupiah.

Kenaikan keuntungan ini juga dialami oleh Asosiasi Florikultura Poktan Alamanda Sukabumi. Ketua Asosiasi tersebut, Anas Anis menjelaskan  bahwa bisnis tanaman hias benar-benar dapat menjanjikan di tengah pandemi.

Pesanan tanaman hias terus mengalami peningkatan. “Bahkan, ekspor produksi dari petani kecil meningkat 95 persen.”

Hal  yang juga sama  di ungkapkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo kalau ada beberapa pengusaha milenial yang berhasil meraih omzet hingga Rp 80-400 juta dalam satu bulan. “Dengan membuat formulasi bunga sedemikian rupa, satu pot bisa dihargai hingga Rp 30 Juta,” kata Syahrul.

3. Makanan

Turunnya omzet toko fisik membuat salah satu mahasiswa asal Jakarta, Reinal Setiawan membuka bisnis brownies agar setidaknya tidak perlu lagi meminta uang saku ke orang tuanya, yang sedang kesulitan dalam mengolah bisnis toko fisik mereka. Bermodalkan ilmu dari jurusan perhotelannya di kampusnya, dia mengembangkan bisnis brownies cheesecake.

Harga brownies yang dia jual bermacam variasi ada di kisaran Rp 75.000 – Rp 85.000. Dia biasanya membuka sistem pre-order di setiap hari Jumat. Lalu, langsung membuat brownies pesanan pada hari H. Dengan motivasi sederhana untuk mendapatkan uang saku sendiri, dia berhasil meraih omzet hingga Rp 10 Juta per bulan dari hasil penjualan browniesnya.

Tak hanya kisah Reinal, Nelam Sari Tanjung, salah satu pebisnis yang bergelut di bidang kuliner juga terkena dampak pandemi. Usaha kuliner khas Medan yang baru dibuka pada tahun 2019 harus terpaksa dia tutup sementara, mendukung dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Akan tetap, dilansir dari ceritanya dengan Kompas.com, Nelam tidak mundur dan tetap menjalankan bisnis kulinernya dari rumah. Wanita usia 31 tahun ini mengambil inisiatif untuk menjual makanannya secara online serta bermitra dengan aplikasi ojek online seperti GoFood dan GrabFood.

“Saat ini, omzet sehari bisa Rp 1,5 sampai Rp 2 Juta, kalau dulu hanya tembus di Rp 1 Juta,” ujar Nelam pada Kompas.com.

Baca Juga: 17 Destinasi Wisata Madiun dari Zaman Dulu hingga Terbaru

4. Aromaterapi

Menjaga kondisi fisik supaya tetap bugar selama Work From Home di masa pandemi memang penting, Akan tetapi jangan lupa dibarengi dengan kondisi psikologis yang stabil. Salah satu  daintaranya yang dapat membuat kondisi psikologis seseorang lebih tenang ialah aromatheraphy.

Oleh sebab itu, karena selama Corona banyak orang yang harus menetap di rumah, bisnis pengharum ruangan seperti ini difusser menjadi salah satu ladang laba. Hal ini diucapkan oleh salah satu pebisnis pengharum ruangan, Albertus Setyapranata lewat laporan yang ditulis oleh medcom.id.

“Banyak orang lagi di rumah aja, sehingga mereka mencari-cari apa yang dapat dipakai untuk mendekor rumah atau menyegarkan rumah supaya tidak bosan. Sehingga, kami menerima banyak sekali pesanan saat pandemi ini. Penjualan lewat e-commerce mencapai peningkatan hingga 100 persen,” ujar Albertus pada medcom.id.

Dalam penjualan pengharum ruangannya, Albertus memasang harga di angka Rp 129.000 – Rp 789.000. Selain diffuser, Albertus juga menjual scented candle atau lilin aromaterapi dan hampers.

Tumbuhnya bisnis-bisnis di atas saat pandemi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat agar  memulai bisnisnya masing-masing. Dari segelintir usaha di atas, mana yang paling menarik untuk dicoba?

5. Masker

Pandemi Covid-19 memukul habis para pelaku usaha UMKM yang menyebabkan penurunan omzet hingga sampai gulung tikar. Oleh karena itu banyak dari pelaku usaha yang memutar otak untuk dapat bertahan terus di tengah krisis pandemi ini. Begitu juga dengan seorang pelaku UKM Linda Ivone Manuputty (50). Wanita single ini juga harus melakukan hal yang sama. Awalnya ia hanyalah pelaku UMKM yang memiliki usaha di bidang produksi makanan yaitu tempe cokelat. Setiap bulannya ia mendapatkan omzet Rp 50 juta. Namun karena pandemi ini omzetnya menurun drastis hingga lebih dari 70 persen. “Dulu saya dapatnya Rp 50 juta per bulan tapi semenjak pandemi pendapatan saya kurang, nggak sampai Rp 20 juta malah,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2020).

Setelah Linda melihat kondisi yang semakin memburukserta tidak tega melihat karyawannya dirumahkan, ia berinisiatif banting stir bisnis. Yakni memproduksi masker kain. Pada saat memulai produksi masker kain, dia tidak memiliki modal yang besar, yakni hanya Rp 5 juta. Dari uang itu, dia mengalokasikan untuk mendapatkan mesin jahit serta bahan baku kain. “Itupun saya hanya bisa mendapatkan mesin jahit yang bekas dua buah serta sisanya beli bahan baku kain yang bentuknya kilogram bukan rol. Kalau rol kan mahal yah, saya beli yang bentuknya kilogram saja dulu,” sambungnya. Sementara untuk membantunya dalam menjahit masker, Linda cukup memanfaatkan karyawannya yang sebelumnya membantu dia di dalam usaha produk tempe. Sehari, dia mengaku sering mendapat pesanan dan memproduksi masker kain sebanyak 250 lusin masker kain. Produknya pun dijual sangat murah dibandingkan dengan harga pasar lainnya yaitu Rp 30.000 untuk satu lusin masker kain. “Kalau dibandingkan dengan harga pasar jauh lebih murah di saya, di pasar mungkin ada Rp 40.000-an saya hanya Rp 30.000 selusin dan kalau dihitung-hitung omsetnya saya dapat Rp 6 juta lebih per hari,” jelasnya. Linda juga mengatakan, untuk proses penjualannya ia hanya memanfaatkan para reseller-nya yang dulunya yang juga menjual produk tempe menjadi reseller penjual masker. “Karena saya niatnya baik untuk membantu karyawan saya supaya mendapatkan penghasilan, Alhamdullillah usaha saya dilancarkan sejauh ini,” Ujarnya.

6.Reseller Hand sanitizer

Hand sanitizer  merupakan barang yang banayak dicari orang sejak awal pandemi Covid-19.

Karena penularan virus ini lebih banyak melalui sentuhan tangan dengan benda atau orang lain.

Tapi pola pikir menjaga kebersihan tangan bakal berlanjut di masa mendatang.

Itu sebabnya, Anjarsari tertarik untuk menjadi reseller produk hand sanitizer Sterilyn.

“Karena menurutku manfaatnya banyak. Lagi pula, ibu-ibu kan tingkat kecemasannya lebih tinggi dari laki-laki, makanya aku yakin produk ini

diminati. Apalagi kami merasakan sendiri khasiat produk itu,” kata perempuan yang biasa disapa Ais ini serius.

Tak dimungkiri produk hand sanitizer memang mulai banyak di pasaran, tapi tetap dicari.

Terlebih lagi jika memiliki keunggulan lebih seperti produk yang dijualnya, di antaranya non alkohol serta aman untuk bayi.

“Sebagai reseller produk itu, kita harus pakai dan rasakan sendiri manfaatnya, sehingga bisa cerita ke calon pembeli serta mau menjualnya lagi,” tambah Anjarsari.

Bersama suaminya, Jauhari (39), Anjarsari menjajakan Sterilyn dengan sistem reseller

Perempuan berusia 35 tahun ini tertarik karena produk tersebut dijual oleh perusahaan yang memang sudah teruji kualitasnya.

Menariknya, untuk jadi reseller produk itu, caranya sangat mudah dan murah.

“Kami hanya membeli kartu diskon mulai Rp10.000 yang digunakan saat kita akan menjual atau menggunakan sendiri produk tersebut. Jadi setiap kali produk itu kita beli dan dijual lagi, kita akan mendapatkan komisi atau cashback dalam bentuk rupiah,” cerita Jauhari yang langsung dapat akses terhadap produk yang dijual supplier begitu membeli kartu diskon.

Menurut Jauhari, keuntungan reseller sebenarnya lebih besar dari pada dropshipper atau supplier.

Karena sejatinya, keuntungan yang didapat bukan hanya dalam bentuk uang, tapi juga kemudahan menjalankan bisnisnya.

“Memang soal harga jual biasanya sudah ditentukan pemilik produk,” tambah Jauhari.

Kemudahan bisnis yang dimaksud misalnya tak memikirkan promosi produk, bahkan pengemasan.

Tak seperti dropshipper, seorang reseller juga tak perlu harus rajin-rajin jualan dan memasang iklan.

“Yang terpenting kita dapat menguasai pasar saja, kalau perlu door to door menawarkan hand sanitizer ini untuk dijual kembali.”

Sebagai reseller keuntungan dari komisi setiap penjualan justru lebih besar, apalagi kalau kita berhasil membuat pembeli ikut menjual produk ini.

“Makanya fokus kami ialah membangun komunikasi yang intens, mencari tahu kepuasan mereka terhadap produk, sehingga membuatnya loyal pada kita,” jelas Anjarsari.

Itu sebabnya, Anjarsari memanfaatkan media sosial atau aplikasi pesan WhatsApp (WA) untuk melakukan komunikasi yang intens tadi kepada orang-orang tertentu, yang potensial jadi penjual.

“Tidak cuma di Facebook, Akan tetapi juga WA, bahkan sampai zoom meeting untuk menawarkan produk hand sanitizer itu kepada mereka,” ungkap Ais.

Untungnya lagi, sebagai reseller, kita punya akses ke produk lain yang dimiliki supplier, dengan keuntungan yang sama.

Sehingga potensi keuntungan pastinya semakin besar.

“Kami pernah mencapai omzet hingga Rp300 juta per bulan pada saat menjual produk mereka,” kata Jauhari.
Bagaimana dengan anda tertarik untuk menjadi reseller hand sanitizer?

Nah, itulah Beragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi, Sekarang anda sudah mendapatkan referensi untuk memilih usaha mana yang cocok unruk anda dan ingin anda jalan kan, Selamat Mencoba!

 

Share via
Copy link
Powered by Social Snap