11/04/2021

Baby Cakes NYC – Informasi Dan Berita Dunia Kesehatan Terbaru

Tpis dan Trik Hidup Sehat, Seputar Kesehatan, Berita Tentang Kesehatan Terbaru dan Update Kumpulan berita seputar kesehatan Setiap Hari

Beragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi

www.babycakesnyc.comBeragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi. Pandemi Corona atau biasa di sebut dengan COVID-19 juga belum menunjukkan tanda berakhir, bahkan saat ini  ekonomi Indonesia akan berpotensi masuk ke dalam resesi ekonomi. Akan tetapi, bukan berarti hal tersebut akan mematikan para pebisnis untuk terus mencari jalan supaya dapat kebal pada dampak ekonomi yang telah ditimbulkan.

Pengusaha muda yang juga di kenal sebagai seorang politisi Gerindra, Sandiaga Uno, meminta pada masyarakat untuk tak menyerah. Karena, masih ada sejumlah peluang dalam usaha di tengah segala keterbatasan yang sedang dihadapi saat ini.

“Kuncinya Innovation fast. Pada masa pandemi ini bagaimana cara kita berinovasi dengan cepat dan mampu untuk menjawab tantangan yang kita hadapi,” ungkap Sandiaga.

Dia menegaskan,untuk setiap enterprenuer di haruskan selalu bisa berpikir cepat serta berinovasi. “Inovation fast yang dimaksudkan ini dapat juga di sebut sidiq, amanah, fathanah, serta tabligh, ini merupakan kesempatan yang dapat kita juga gunakan di tengah kondisi pandemi covid-19 ini guna meningkatkan sisi spritual,” jelas Sandiaga.

Baca Juga: 5 Negara dengan Resesi Terburuk Sepanjang 2020

Berikut merupakan contoh usaha-usaha kecil dengan laba menggiurkan di masa pandemi.

1. Ikan Cupang

Pedagang ikan cupang di Kota Tasikmalaya sangat senang. Bagaimana tidak, di saat usaha-usaha lain banyak yang terpuruk akibat pandemi Covid-19, usaha penjualan ikan cupang justru meroket.

Pelaku usaha ikan cupang mengaku, dengan menjual ikan cupang pada saat ini dapat menghasilkan keuntungan yang sangat luar biasa. Bahkan ujar mereka, sejak enam bulan kebelakang atau saat terjadi pandemi covid-19, permintaan ikan cupang oleh masyarakat selalu banyak.

Pedagang Ini dapat meraup Rp5 Juta Satu Hari Selama masa pandemi sampai saat ini diterapkanya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), oleh para penjual ikan cupang hias tak mengalami penurunan omzet sama sekali, bahkan cenderung mengalami peningkatan secara signifikan.

Di Kota Tasikmalaya penjual ikan cupang berlokasi utama di Pasar Karlis Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Ditempat ini, puluhan penjual ikan cupang berbaur dengan penjual ikan hias lainnya menawarkan puluhan jenis ikan hias jenis cupang.

Salah satu penjual ikan cupang di kawasan pasar karlis Kota Tasikmalaya Indra Gunawan (36) mengatakan, pada kondisi biasa, ia hanya bisa menjual ikan cupang paling banyak 50 ekor dalam sehari. Namun, ketika memasuki pandemi Covid-19 ia lantas dapat menjual sampai 500 ekor setiap harinya atau mengalami lonjakan penjualan sampai sepuluh kali lipat.

“Sepertinya pandemi covid-19 tidak berpengaruh terhadap usaha yang saya geluti, malah meningkat hampir 10 kali lipat lebih,” ujar Indra Kamis, 19 November 2020.

Ikan cupang yang Indra jual pun terdiri dari beragam jenis, mulai dari ikan cupang jenis Nemo, Giant, Avatar, Vancy dan lain sebagainya. “Namun, yang paling banyak di minati oleh masyarakat ialah jenis Nemo dan Giant,” ungkapnya.

Untuk perekor ikan cupang kata Indra, harganya beragam, mulai dari harga Rp5.000 hingga Rp150.000 per ekor tergantung dari jenis maupun ukuran ikan cupangnya.

Dengan harga yang cukup terjangkau tersebut, banyak pembeli yang datang tidak hanya dari kalangan anak -anak bahkan banyak juga pembeli orang dewasa.

Dari jumlah ikan hias yang yang bisa ia jual kata Indra, omset yang didapat pun dari penjualan ikan cupang lumayan besar.

Memelihara ikan cupang sendiri kata Indra cukup mudah, karena tidak memerlukan lahan yang luas serta modal yang besar. Selain itu, keistimewaan lain pada ikan cupang yaitu bisa dipelihara di toples, tidak memerlukan aerator, dan biasa bertahan lama tanpa banyak oksigen. Tak heran apabila akhir-akhir ini cupang menjadi kebiasaan baru masyarakat, tak hanya penggemarnya saja, orang awam pun dapat ikut serta memburu ikan hias satu ini.

“Kondisi ini semakin memperkuat masyarakat dalam membudidaya ikan cupang hias, terlebihlagi  perawatan tesebut tak terlalu membutuhkan perawatan yang begitu sulit,” imbuh Indra.

Hal senada disampaikan Ny. Ika penjual pakan ikan di pasar yang sama. Saat ini ujar Ika, pakan ikan cupang seperti kutu air (kutir) dan cacing sutra yang banyak dibeli oleh para pemelihara ikan cupang.” Saya kerap kali kekurangan barang dagangan saking banyaknya pembeli pakan ikan cupang,” ujar Ika.

Sementara itu, salah satu diantara pembeli yang berasal dari Kecamatan CipEdes, Irvan Wiguna (32) mengatakan, selain dipelihara sendiri, ikan cupang yang ia beli untuk dijual lagi. Apalagi ujar dia, saat ini, ikan cupang mulai di minati oleh banyak masyarakat, sehingga menjadi bisnis yang lumayan menjanjikan.

“pada saat  pandemi ini ikan cupang sangat ramai diburu oleh masyarakat, mungkin selain karena banyak sekali jenis serta warnanya, ikan cupang juga bisa di gunakan sebagai teman ketika bersantai atau menghilangkan rasa penat setelah melakukan aktifitas,” ujarnya

2. Tanaman Hias

Selain ikan cupang, tanaman hias juga  menjadi salah satu hobi baru atasi penat di tengah pandemi. Tren untuk memelihara tanaman hias juga dinilai akan mengalami peningkatan yang signifikan.

Asosiasi petani tanaman hias yang terletak di kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan dalam penjualan sampai 5 kali lipat dari pada sebelum pandemi. karena, harga tanaman hias yang dibudidaya juga memiliki harga yang variatif mulai dari belasan ribu sampai ratusan juta Rupiah.

Naiknya keuntungan tersebut juga rasakann oleh Asosiasi Florikultura Poktan Alamanda Sukabumi. Ketua Asosiasi, Anas Anis menjelaskan  bahwa bisnis tanaman hias benar-benar dapat menjanjikan di tengah pandemi.

Pesanan tanaman hias akan terus mengalami suatu peningkatan. “Bahkan, ekspor produksi di petani kecil meningkat 95 persen.”

Hal  yang juga sama  di ungkapkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo kalau ada beberapa pengusaha milenial yang berhasil meraih omzet hingga Rp 80-400 juta dalam satu bulan. “Dengan membuat formulasi bunga sedemikian rupa, satu pot bisa dihargai hingga Rp 30 Juta,” kata Syahrul.

3. Makanan

Turunnya omzet toko fisik membuat salah satu mahasiswa asal Jakarta, Reinal Setiawan membuka bisnis brownies agar setidaknya tidak perlu lagi meminta uang saku ke orang tuanya, yang sedang kesulitan dalam mengolah bisnis toko fisik mereka. Bermodalkan ilmu dari jurusan perhotelannya di kampusnya, dia mengembangkan bisnis brownies cheesecake.

Harga brownies yang dia jual bermacam variasi ada di kisaran Rp 75.000 – Rp 85.000. Dia biasanya membuka sistem pre-order di setiap hari Jumat. Lantas, langsung saja membuat brownies pesanan tersebut pada hari H. Dengan menggunkan motivasi sederhana guna mendapatkan uang sakunya sendiri, dia bahkan berhasil meraih omzet mencapai Rp 10 Juta setiap bulanya dari hasil penjualan browniesnya.

Tak hanya kisah Reinal, Nelam Sari Tanjung, salah satu pebisnis yang bergelut di bidang kuliner juga terkena dampak pandemi. Usaha kuliner khas Medan yang baru dibuka pada tahun 2019 harus terpaksa dia tutup sementara, mendukung dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Akan tetap, dilansir dari ceritanya kepada Kompas.com, Nelam tak mundur serta tetap menjalankan bisnis kulinernya di rumah. Wanita usia 31 tahun tersebut mengambil inisiatif supaya menjual makanannya secara online dan bermitra dengan aplikasi ojek online seperti GoFood serta GrabFood.

“Saat ini, omzet sehari bisa Rp 1,5 sampai Rp 2 Juta, kalau dulu hanya tembus di Rp 1 Juta,” ujar Nelam pada Kompas.com.

Baca Juga: 17 Destinasi Wisata Madiun dari Zaman Dulu hingga Terbaru

4. Aromaterapi

Menjaga keadaan fisik supaya senantiasa bugar selama Work From Home pada masa pandemi memanglah sangat penting, Akan tetapi janganlah melupakan diiringi dengan kondisi psikologis yang stabil. Salah satu  daintaranya yang dapat membuat kondisi psikologis seseorang lebih tenang ialah aromatheraphy.

Oleh sebab itu, karena selama Corona banyak orang yang harus menetap di rumah, bisnis pengharum ruangan seperti ini difusser menjadi salah satu ladang laba. Hal ini dikatakan oleh seseorang pebisnisman pengharum ruangan, yaitu Albertus Setyapranata lewat laporannya yang ditulis oleh medcom.id.

“Banyak orang lagi di rumah aja, sehingga mereka mencari-cari apa yang dapat dipakai untuk mendekor rumah atau menyegarkan rumah supaya tidak bosan. Sehingga, kami menerima banyak sekali pesanan saat pandemi ini. Penjualan lewat e-commerce mencapai peningkatan hingga 100 persen,” ujar Albertus pada medcom.id.

Dalam penjualannya pengharum ruangan, Albertus memasang harga pada angka Rp 129.000 – Rp 789.000. Selain diffuser, Albertus menjual scented candle atau lilin aromaterapi dan hampers.

Tumbuhnya bisnis-bisnis di atas saat pandemi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat agar  memulai bisnisnya masing-masing. Dari segelintir usaha di atas, mana yang paling menarik untuk dicoba?

5. Masker

Pandemi Corona atau biasa di sebut Covid-19 memukul rata  para pelaku usaha UMKM yang  berakibat menurunanya omzet sehingga ada yang sampai gulung tikar. Oleh karena itu banyak dari pelaku usaha yang memutar otak untuk dapat bertahan terus di tengah krisis pandemi ini. Begitu juga dengan seorang pelaku UKM Linda Ivone Manuputty (50). Wanita single ini juga harus melakukan hal yang sama.Pada mulanya ia hanyalah seorang pelaku UMKM yang mempunyai usaha di bidang produksi makanan yakni tempe cokelat. Tiap bulannya ia mendapatkan omzet Rp 50 juta. Akan tetapi d karenakan pada masa pandemi ini omzetnya menurun secara drastis hingga saat ini lebih dari 70 persen. “Dulu saya mendapatkan Rp 50 juta Setiap bulanya akan tetapi semenjak masa pandemi pendapatan saya pun kurang, tidak sampai Rp 20 juta bahkan,”katanya pada saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2020).

Setelah Linda melihat kondisi yang semakin memburukserta tak tega melihat karyawannya yang dirumahkan, ia pun berinisiatif  membanting stir bisnisnya. Yaitu memproduksi masker kain. Pada saat memulai produksi masker kain, dia tidak memiliki modal yang besar, yakni hanya Rp 5 juta. Dari uang tersebut, ia mengalokasikan guna mendapatkan mesin jahit dan bahan baku kainya. “Itupun saya hanya dapat mesin jahit bekas dua buah serta sisanya beli bahan baku kain yang bentuknya kilogram bukan rol. Kalau rol kan mahal yah, saya beli yang bentuknya kilogram saja dulu,” sambungnya. Sementara untuk membantunya dalam menjahit masker, Linda cukup memanfaatkan karyawannya yang sebelumnya membantu dia di dalam usaha produk tempe. Sehari, dia mengaku sering mendapat pesanan dan memproduksi masker kain sebanyak 250 lusin masker kain. Produknya pun ia jual sangat murah dibanding dengan harga pasar lainnya yaitu Rp 30.000 setiap satu lusin masker kain. “Jika dibandingkan dengan harga pasar yang jauh lebih murah di tempat saya, di pasar mungkin berkisar Rp 40.000-an sedangkan saya hanya Rp 30.000 selusin serta kalau dihitung-hitung omsetnya saya dapat Rp 6 juta lebih per hari,” jelasnya. Linda mengatakan, kalo proses penjualan ia hanya mengandalkan para reseller-nya yang dulu yang juga menjual produk tempe menjadi reseller penjual masker. “Karena saya niatnya baik untuk membantu karyawan saya supaya mendapatkan penghasilan, Alhamdullillah usaha saya dilancarkan sejauh ini,” Ujarnya.

6.Reseller Hand sanitizer

Hand sanitizer  merupakan barang yang banayak dicari orang sejak awal pandemi Covid-19.

Karena penularan virus ini lebih banyak melalui sentuhan tangan dengan benda atau orang lain.

Tetapi pola pikir dalam menjaga kebersihan tangan akan berlanjut di masa mendatang.

Itu sebabnya, Anjarsari tertarik untuk menjadi reseller produk hand sanitizer Sterilyn.

“Karena menurutku manfaatnya banyak. Terlebih lagi, ibu-ibu memang memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari pada laki-laki, maka dari itu saya yakin produk ini akan

diminati. Apalagi kami dapat merasakan sendiri manfaat produk tersebut,” kata perempuan yang biasa dikenal Ais ini serius.

Tak dimungkiri produk hand sanitizer memang mulai banyak di pasaran, tapi tetap dicari.

Terlebih lagi apabila mempunyai keunggulan lebih seperti produk yang telah dijualnya, di antaranya yang non alkohol serta aman bagi bayi.

“Sebagai reseller produk ini, kita harus menggunakan serta rasakan sendiri manfaatnya, sehingga dapat menceritakan kepada calon pembeli dan mau menjualnya kembali,” tambah Anjarsari.

Bersama dengan suaminya, Jauhari (39), Anjarsari menjual Sterilyn menggunakan sistem reseller

Perempuan yang berusia 35 tahun tersebut tertarik sebab produk ini dijual oleh perusahaan yang memang telah terbukti kualitasnya.

Uniknya, untuk jadi reseller produk itu, caranya sangat mudah dan murah.

“Kami hanya membeli kartu diskon mulai Rp10.000 yang digunakan saat kita akan menjual ataupun menggunakan sendiri produk ini. Jadi setiap kali produkini kita beli serta dijual kembali, kita akan mendapatkan keuntungan atau cashback dalam bentuk rupiah,” cerita Jauhari yang langsung dapat akses terhadap produk yang dijual supplier begitu membeli kartu diskon.

Menurut Jauhari, keuntungan reseller sebenarnya lebih besar dari pada dropshipper atau supplier.

Karena sejatinya, keuntungan yang didapat bukan hanya dalam bentuk uang, tapi juga kemudahan menjalankan bisnisnya.

“Memang kalo soal harga jual umumnya sudah ditentukan oleh pemilik produk,” tambah Jauhari.

Kemudahan bisnis yang dimaksudkan contohnya tidak memikirkan promosi produk, bahkan dalam pengemasan.

Tak sama halnya dengan dropshipper, seorang reseller juga tak perlu harus rajin-rajin jualan dan memasang iklan.

“Yang terpenting kita dapat menguasai pasar saja, kalau perlu door to door menawarkan hand sanitizer ini untuk dijual kembali.”

Sebagai seorang reseller keuntungan dari komisi tiap penjualan justru akan lebih besar, apalagi kalau kita berhasil membuat pembeli ikut menjual produk ini.

“Karena itu fokus kami ialah membangun komunikasi intens, mencari tahu kepuasan setiap mereka terhadap produk kami, sehingga membuatnya akan loyal kepada kita,” jelas Anjarsari.

Itu sebabnya, Anjarsari memanfaatkan media sosial atau aplikasi pesan WhatsApp (WA) untuk melakukan komunikasi yang intens tadi kepada orang-orang tertentu, yang potensial jadi penjual.

“Tidak hanya di Facebook, Akan tetapi WA, bahkan  zoom meetingpun menawarkan produk hand sanitize rtersebut  kepada mereka,” kata Ais.

Untungnya lagi, sebagai reseller, kita punya akses ke produk lain yang dimiliki supplier, dengan keuntungan yang sama.

Sehingga potensi keuntungan pastinya semakin besar.

“Kami pernah mencapai omzet hingga Rp300 juta per bulan pada saat menjual produk mereka,” kata Jauhari.
Bagaimana dengan anda tertarik untuk menjadi reseller hand sanitizer?

Nah, itulah Beragam Usaha Kecil Dengan Laba Menggiurkan di Masa Pandemi, Sekarang anda sudah mendapatkan referensi untuk memilih usaha mana yang cocok unruk anda dan ingin anda jalan kan, Selamat Mencoba!

 

Share via
Copy link
Powered by Social Snap